Wartawan Ditengah Banjir

Bencana banjir untuk kali ke tiga menyatroni kawasan pemukiman warga. Di kecamatan Laren, sepuluh desa terendam banjir. Tiga desa diantaranya terisolir. Tiga deas tersebut adalah desa Jabung, desa Gelap dan desa Dateng.

hampir tiap hari di daerah banjir tersebut, selalu di jumpai wartawan diantara warga(wartawan bodrek tidak pernah kelihatan). Wartawan cetak maupun elektronik dengan telaten mengikuti perkembangan banjir. Otakpun terus diputar untuk mengambil sudut pandang yang berbeda dengan hari kemarin.
Pemberitaan demi pemberitaanpun sampai pada masyarakat luas. Berbagai dampak sosial banjir kemudian memunculkan kepedualian (bagi yang peduli). namun banyak juga yang justru cuek dengan penderitaan saudara-saudaranya. Pertanyaan yang selalu diucapkan korban banjir kepada wartawan adalah “mau dikasih uang ya mas…?” atau justru umpatan “diliput terus tapi tidak pernah dikasih bantuan!.” apapun perkataan mereka, merupakan sebuah ekspresi dari warga yang menderita. wartawan dianggap sebagai sosok yang paling dekat dengan bencana, wartawan kerap dipandang sebagai sosok penolong. benarkah?
di dalam situasi banjir seperti ini, peranan pers hanya satu, yakni sebagai lembaga yang memberikan informasi. Memberitakan perkembangan banjir, memberitakan kendala dan kesulitan hidup korban banjir, serta mendorong pihak yang berwenang untuk segera mengatasi masalah banjir.
namun dilain sisi, beberapa wartawan juga menjadikan banjir sebagai lahan basah untuk meningkatkan produktifitas. Terjadilah berita yang bombastis dan cenderung dibesar-besarkan. Komplain, bahkan somasi kerap dilayangkan pihak-pihak yang dirugikan.
Semua itu adalah dinamika pekerja pers di saat banjir datang….namun yang harus diperhatikan adalah bagaimana pers menempatkan diri sebagai lembaga kontrol dan setia pada tempatnya; independen. (kid)

About this entry